Perencanaan Pembelajaran

<

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pentingnya Perencanaan Pembelajaran

Pendidikan merupakan sektor yang amat penting dan strategis bagi siapa saja. Pemerintah, keluarga dan individu dalam kapasitasnya masing-masing selalu memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan. Untuk itu perencanaan pendidikan harus betul-betul menyerap dan mengakomodasikan aspirasi pendidikan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang mempunyai totalitas dari kelompok-kelompok individu maupun keluarga.

Peran seorang guru sangat penting dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus mampu memotivasi siswa dengan sebaik-baiknya dalam proses pembelajaran, karena inti suatu pembelajaran terletak pada interaksi guru dengan siswa. Dimana guru melakukan kegiatan mengajar sedang siswa melakukan kegiatan belajar. Sehingga interaksi guru dengan siswa disebut juga proses belajar mengajar. Oleh karena itu, adalah Penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar murid, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi para siswa.

Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi banyak faktor, salah satu diantaranya adalah proses pelaksanaan. Pelaksanaan pembelajaran yang baik, di pengaruhi oleh perencanaan yang baik pula.

Berikut akan dikemukakan pendapat Banghart dan Albert Trull (Educational planning,1983) dalam Harjanto (Perencanaan pengajaran,1997 hal 3), mereka tidak memberikan batasan perencanaan pengajaran secara ekslusif, melainkan mengatakan bahwa dalam rangka mengerti makna perencanaan pengajaran dapat dilihat dari 3 dimensi, yakni karakteristik, perencanaan pengajaran, berusaha menggambarkan sifat-sifat aktivitas perencanaan pengajaran.

Bicara tentang dimensi perencanaan pengajaran, berkenaan dengan luas dan cakupan aktivitas perencanaan yang mungkin dalam system pendidikan, yang merupakan karakteristik perencanaan pengajaran adalah :

a. Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan social dan konsep-konsepnya dirancang oleh banyak orang.

b. Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.

c. Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan.

d. Perencanaan pengajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah manajemennya.

Batasan lain yang dikemukakan adalah pendapat Philip Commbs (1982) dalam Harjanto (Perencanaan Pengajaran 1997, hal 6), mengatakan perencanaan pengajaran adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para murid dan masyarakatnya.

Dalam kenyataan perencanaan pengajaran di Indonesia tidak jauh berbeda dengan perencanaan di sektor lain yang kesemuanya menginduk kepada pola perencanaan Bappenas. Perencanaan pengajaran di Indonesia merupakan suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi masalah yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang sosial ekonomi, sosial budaya dan kebutuhan pembangunan secara menyeluruh terhadap pendidikan nasional. Definisi ini memperlihatkan suatu tanggung jawab pendidikan yang besar sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.

Suatu perencanaan berkaitan dengan penentuan apa yang akan dilakukan. Dalam perencanaan pembelajaran, guru harus menentukan skenario atau strategi atau biasa disebut langkah-langkah pembelajaran dengan baik sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan bagi para siswa.

Agar pelaksanaan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien maka diperlukan suatu perencanaan yang tersusun secara sistematis. Agar terjadi keaktifan peserta didik dalam pembelajaran diperlukan proses belajar mengajar yang lebih bermakna dan dirancang dalam suatu skenario yang jelas.

Banyak cara atau bentuk pembelajaran yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar di kelas, misalnya dengan menekankan latihan, hafalan, pengulangan, pemahaman dan sebagainya. Cara atau bentuk pembelajaran yang dilakukan guru tersebut sebenarnya mengacu pada suatu teori atau konsep psikologi tertentu.

B. Teori-Teori Belajar

Dalam pembelajaran guru perlu memahami kondisi siswa, karena mengajar hanya bermakna apabila terjadi kegiatan murid. Sehingga guru dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat bagi siswa. Agar seorang pendidik dapat memberikan perlakuan mendidik yang diharapkan, digunakan beberapa prinsip dalam pengajaran. Prinsip pengajaran yang diberikan, biasanya mengacu pada teori-teori belajar atau konsep psikologi tertentu.

Dalam uraian ini, akan memuat beberapa aliran psikologi saja dalam hubungannya dengan teori belajar, yaitu :

a. Pandangan Psikologi Daya (Wolff,Tetens dan Kant)

Psikologi daya menganalogikan jiwa dengan jasmani. Psikologi daya berpandangan bahwa inti belajar terletak pada ulangan.

Daya-daya jiwa menurut psikologi daya haruslah sama halnya seperti daya-daya jasmani, yakni untuk memperkuat daya-daya harus melatihnya pula dengan cara mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang. Daya pikir misalnya, akan meningkat kalau pikiran itu berulang-ulang dilatih memecahkan soal. Jadi, teori ini memberikan pengertian bahwa belajar adalah ulangan terus-menerus.

b. Psikologi Naturalisme Romantik (Jean J. Rousseau)

Teori ini menyatakan bahwa setiap anak memilik potensi atau kekuatan yang masih terpendam, yaitu potensi berpikir, berperasaan, berkemauan, keterampilan, berkembang mencari dan menemukan sendiri apa yang diperlukannya. Melalui berbagai bentuk kegiatan dan usaha belajar anak mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Rousseau berpendapat bahwa anak tidak perlu banyak diatur dan diberi, biarkan mereka mencari dan menemukan dirinya sendiri, sebab anak dapat berkembang sendiri.

Bagi teori ini, tugas guru tidak jauh berbeda dengan tugas seorang petani dalam mengembangkan tanaman. Tanaman telah mempunyai potensi-potensi sendiri, tugas petani hanya menyediakan tanah yang gembur, air dan cahaya yang cukup, diberi pupuk dan dihindarkan dari serangan hama. Tanaman akan tumbuh, berdaun, berbunga dan berbuah sendiri, tidak perlu dipaksa.

Dalam proses pembelajaran guru tidak perlu memaksa anak. Tugas guru menyediakan bahan ajar yang menarik perhatian dan minat anak sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberi motivasi dan bimbingan sesuai dengan sifat dan kebutuhan anak. Dengan cara seperti ini anak akan berkembang secara optimal. Konsep pembelajaran yang mengaktifkan siswa misalnya, CBSA, belajar inkuiri Diskaveri, Pemecahan masalah CTL dan sebagainya.

c. Psikologi Asosiasi (Edward L. Thorndike)

Psikologi asosiasi atau koneksionisme merupakan rumpun behaviorisme. Menurut Psikologi ini tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan antara rangsangan dengan jawaban atau stimulus respon. Teori ini berpendapat belajar pada binatang juga berlaku pada manusia adalah trial and error, ataU belajar coba-coba. Dalam teori ini mengemukakan tiga prinsip atau hukum utama belajar. Pertama, Law of edginess atau hukum kesiapan, yang menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila siswa atau individu yang belajar telah memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut. Seorang anak akan bisa belajar berjalan, apabila dalam perkembangannya ia telah memiliki kesiapan atau kematangan untuk berjalan. Anak yang belum siap berjalan, kalaupun dipaksa dilatih berjalan tidak akan membawa hasil, malah mungkin akan merusakkannya. Prinsip kedua adalah law of exercise atau hukum latihan, yang menyatakan bahwa belajar memerlukan banyak latihan atau ulangan-ulangan. Suatu kecakapan atau keterampilan akan dikuasai apabila banyak dilatih. Seorang siswa yang ingin pandai bermain piano harus banyak berlatih main piano. Semakin banyak dan intensif latihan yang dilakukan oleh seseorang akan semakin tinggi tingkat penguasaannya. Prinsip yang ketiga adalah law off effect, atau hukum mengetahui hasil. Belajar akan lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik dapat merupakan umpan balik yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Dalam mengajar, guru dianjurkan untuk segera memeriksa semua hasil pekerjaan siswa, memberi nilai dan segera mengembalikannya kepada siswa. Dengan cara itu siswa mengetahui hasil dari usaha belajarnya, dan akan meningkatkan semangat untuk belajar selanjutnya.

d. Psikologi Conditioning (Petrovtich Pavlov)

Teori ini disebut teori conditioning karena menyatakan bahwa belajar terjadi karena “persyaratan”. Perbuatan belajar adalah perbuatan yang berwujud rentetan response atau gerakan reflex yang sifatnya mekanistis.

Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur pada anjing. Air liur akan keluar apabila anjing melihat atau mencium bau makanan. Dalam percobaan Pavlov membunyikan bel sebelum memperlihatkan makan pada anjing. Setelah di ulang berkali-kali ternyata, air liur tetap keluar bila bel berbunyi meskipun makanannya tidak ada. Hasil dari penelitian ini ternyata dapat diterapkan pada manusia, seperti para siswa berbaris dan masuk kelas kalau lonceng berbunyi. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Kebiasaan makan atau mandi pada jam tertentu, kebiasaan berpakaian, kebiasaan belajar, bekerja, bertegur sapa dengan orang lain dan lain sebagainya terbentuk karena pengkondisian. Mengajar menurut teori ini adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Pembiasaan ini perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi bias juga oleh stimulus penyerta.

e. Psikologi kognitif Gestalt (Kohler, Kurt Koffka, Kurt Lewin, dsb)

Teori ini lebih menekankan pada proses mengetaui (knowing), yaitu menemukan cara-cara ilmiah dalam mempelajari proses mental yang terlibat dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Anak memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan sendiri. Dalam proses belajar mengajar, anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, membuat interpretasi serta menarik kesimpulan.

Pengajaran yang berdasarkan teori kognitif, menekankan proses belajar aktif, terutama aktif secara mental (melakukan proses mental atau proses berpikir), didalam mencari dan menemukan pengetahuan serta menggunakannya. Berbagai bentuk metode belajar aktif seperti metode : pemecahan masalah, penelitian, pengamatan, diskusi, deduktif, induktif dan lain-lain merupakan metode-metode yang khas dari teori ini.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Skenario Pembelajaran

Satuan Pendidikan : SMP/MTs

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan sosial

Kelas/Semester : IX/I

Standar Kompetensi : Memahami Perubahan Sosial Budaya

Alokasi Waktu : 2X40 menit

A. Kompetensi Dasar

3.1. Mendeskripsikan perubahan sosial budaya pada masyarakat.

B. Indikator

1. Memberi contoh terjadinya perubahan sosial budaya.

2. Menguraikan faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial budaya.

C. Materi Pelajaran

1. Bentuk-bentuk perubahan sosial budaya.

2. Faktor-faktor pendorong perubahan sosial masyarakat.

D. Langkah-langkah Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan

a. Melakukan absensi

b. Sebagai apersepsi, guru menunjukan dua buah gambar tentang cara berpakaian dan transportasi.

c. Guru mengajak siswa untuk membandingkan cara berpakaian dan transportasi pada zaman dahulu dan sekarang.

d. Guru menanyakan kepada siswa mengapa perubahan itu terjadi.

e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi perlunya mengetahui sebab-sebab perubahan sosial budaya.

2. Kegiatan Inti

a. Guru membentuk kelompok diskusi. Setiap kelompok mendiskusikan sebab-sebab perubahan sosial budaya baik dari dalam maupun dari luar masyarakat, serta memilah-milahnya.

b. Guru meminta salah seorang dari salah satu kelompok diskusi untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.

c. Guru meminta anggota kelompok lain memberikan tanggapan atas materi yang dipresentasikan tersebut.

3. Kegiatan Penutup

a. Guru menyimpulkan pelajaran dan mengajak siswa untuk merefleksikan sebab-sebab perubahan sosial budaya.

b. Guru memberi tugas rumah (PR), tentang sebab-sebab perubahan sosial budaya yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya.

B. Penerapan Teori Belajar Dalam Skenario Pembelajaran.

Dari Skenario pembelajaran diatas dapat dilihat adanya beberapa teori-teori atau konsep psikologi pembelajaran yang dipergunakan, antara lain :

A. Pada Pendahuluan.

- Guru melaksanakan absensi siswa. Ini menunjukkan usaha guru untuk merespon terhadap situasi dan kondisi sehingga menjadi suatu kebiasaan, hal ini sesuai dengan teori Psikologi conditioning.

- Kegiatan guru sebagai apersepsi dengan memperlihatkan gambar,serta melakukan tanya jawab dan memberi motivasi perlunya mengetahui sebab-sebab perubahan sosial budaya, menunjukkan usaha guru mengkondisikan siswa untuk memiliki kesiapan dalam belajar dengan memberikan stimulus –respon/rangsangan berupa gambar-gambar sehingga perhatian siswa menjadi terfokus dan dapat berkonsentrasi pada pelajaran. Hal ini memperlihatkan adanya penerapan Psikologi Asosiasi, yaitu hubungan antara stimulus dan respon serta salah satu prinsip utama belajar yakni law of ediness atau hukum kesiapan.

B. Pada kegiatan Inti

- Guru mengarahkan siswa untuk melaksanakan diskusi dengan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya, sedangkan kelompok yang lain memberi tanggapan. Pada pelaksanaan pembelajaran ini, guru menggunakan teori Psikologi Naturalisme Romantik yang menyatakan anak memiliki potensi atau kekuatan yang masih terpendam, baik potensi berpikir, berperasaan, berkemauan, keterampilan, berkembang, mencari dan menemukan sendiri apa yang diperlukannya.

- Guru mempersilahkan murid untuk memberi tanggapan dari hasil presentasi materi, kegiatan ini menunjukkan usaha guru untuk memahami bahwa setiap anak atau individu memiliki sejumlah daya atau kekuatan seperti daya: mengindra, mengenal, mengingat, menanggap, mengkhayal, berpikir, merasakan, menilai dan berbuat, yang dapat dikembangkan melalui latihan. Hal ini sesuai dengan teori Psikologi Daya/ Faculty Psychology . Pembelajaran ini juga sesuai dengan teori Psikologi Tanggapan, dimana setiap anak dapat belajar dari pengalaman, apakah yang diterima melalui penglihatan, pendengaran, peradaban, dibaca, dipikirkan, dilakukan dan sebagainya, agar terbentuk tanggapan yang jelas sebanyak mungkin serta ada kaitan antara satu tanggapan dengan yang lainnya.

C. Pada Kegiatan Penutup

Guru memberi tugas rumah kepada siswa. Kegiatan ini menekankan pada proses belajar aktif, terutama aktif secara mental dalam mencari dan menemukan pengetahuan serta menggunakannya.

C. Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan dalam Perencanaan Program Pengajaran

Penyusunan program pengajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran berjalan lebih lancar dan hasilnya lebih baik. Kurikulum, terutama perangkat pembelajarannya menjadi acuan utama di dalam penyusunan atau perencanaan suatu program pengajaran, namun kondisi sekolah dan lingkungan sekitar, kondisi siswa dan guru merupakan hal-hal penting yang juga perlu diperhatikan

1. Kurikulum

Dalam perencanaan atau penyusunan suatu program pengajaran, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kurikulum terutama perangkat pembelajarannya. Dalam perangkat pembelajaran telah tercantum Standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, tujuan pembelajaran, indikator serta alokasi waktu untuk mengajar materi tersebut. Dalam penyusunan program semester, rincian standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan diberikan, perlu juga memperhatikan waktu yang tersedia. Jika waktu yang tersedia cukup banyak maka indikator yang akan disampaikan dapat lebih banyak, tetapi jika waktu sedikit maka indikator yang akan diberikan dibatasi. Demikian juga pada waktu menyusun bahan ajar dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), luasnya bahan dan banyaknya aktivitas belajar perlu disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

2. Kondisi Sekolah

Perencanaan program pengajaran juga perlu memperhatikan keadaan sekolah, terutama tersedianya sarana-prasarana dan alat bantu pelajaran, karena keduanya menjadi pendukung terlaksananya berbagai aktivitas belajar siswa.

Guru tidak mungkin melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam praktek menggunakan komputer apabila di sekolah itu tidak tersedia computer. Demikian juga halnya guru tidak mungkin menyuruh siswa-siswa mengadakan pengamatan terhadap tanaman, jika di sekolah/sekitar sekolah tidak ada taman

3. Kemampuan dan perkembangan siswa

Dalam program pengajaran, baik program semester maupun program mingguan/harian dapat dipandang sebagai suatu skenario tentang apa yang harus dipelajari siswa dan bagaimana mempelajarinya. Agar materi dan cara belajar ini sesuai dengan kondisi siswa, maka penyusunan program rencana pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan siswa. Keluasan dan kedalaman materi pelajaran serta aktivitas belajar yang direncanakan guru perlu disesuikan dengan kemampuan dan perkembangan siswa. Secara umum, siswa dalam satu kelas terbagi atas tiga kelompok, yaitu kelompok pandai atau cepat belajar, sedang dan kelompok kurang atau lambat belajar. Bagian yang terbanyak adalah yang kelompok sedang, maka penyusunan materi hendaknya menggunakan kriteria sedang ini. Untuk mengatasi variasi pengetahuan siswa, maka guru perlu menggunakan metode atau strategi mengajar yang bervariasi pula.

4. Keadaan Guru

Guru dituntut memiliki kemampuan dalam segala hal yang berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Kalau pada suatu saat seorang guru memiliki kekurangan, maka ia dituntut untuk segera belajar/meningkatkan kemampuan dirinya. Bagi guru-guru yang masih sangat sedikit pengalaman mengajarnya, perlu mendapat perhatian dengan diikutkan dalam pelatihan-pelatihan sehingga kemampuannya dapat ditingkatkan.

BAB III KESIMPULAN

Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi banyak faktor, salah satu diantaranya adalah proses pelaksanaan. Pelaksanaan pembelajaran yang baik dipengaruhi oleh perencanaan yang baik pula.

Suatu perencanaan berkaitan dengan penentuan apa yang harus dilakukan. Dalam perencanaan pembelajaran, guru harus menentukan skenario atau strategi atau biasa disebut langkah-langkah pembelajaran dengan baik sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan bagi para siswa.

Dalam pembelajaran, guru perlu memahami kondisi siswa dengan memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat bagi siswa. Agar seorang guru dapat memberikan perlakuan mendidik yang diharapkan, digunakan beberapa prinsip dalam pengajaran. Prinsip pengajaran yang diberikan biasanya mengacu pada teori-teori belajar atau konsep psikologi tertentu.

Dalam perencanaan program pengajaran, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pelaksanaan pengajaran dapat berjalan lebih lancar dan hasilnya dapat lebih baik, yaitu : Kurikulum, kondisi sekolah, kemampuan dan perkembangan siswa serta keadaan guru. Apabila hal-hal tersebut diperhatikan dan dilaksanakan maka diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto, 1997, Perencanaan Pengajaran, Jakarta. Rineka Cipta

Ibrahim, R dan Nana Syaodih S. 2003, Perencanaan Pembelajaran. Jakarta, Rineka Cipta

Masnur Muslich. 2007. KTSP, Dasar Pengembangan Dan Pengembangan

Oemar Hamalik. 2001, Proses Belajar Mengajar, Jakarta. Bumi Aksara

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: